Senin, 24 November 2014
KOMUNITAS HEWAN
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang
hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi
satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila
dibandingkan dengan individu dan populasi.
Komunitas ialah beberapa kelompok
makhluk yang hidup bersama-sama dalam suatu tempat yang bersamaan, misalnya
populasi semut, populasi kutu daun, dan pohon tempat mereka hidup membentuk
suatu masyarakat atau suatu komunitas. Dengan memperhatikan
keanekaragaman dalam komunitas dapatlah diperoleh gambaran tentang kedewasaan
organisasi komunitas tersebut. Komunitas dengan populasi ibarat makhluk
dengan sistem organnya, tetapi dengan tingkat organisasi yang lebih tinggi
sehingga memiliki sifat yang khusus atau kelebihan yang tidak dimiliki oleh
baik sistem organ maupun organisasi hidup lainnya.( Soedjiran Resosoedarmo, 1990)
Perubahan komunitas yang sesuai
dengan perubahan lingkungan yang terjadi akan berlangsung terus sampai pada
suatu saat terjadi suatu komunitas padat sehingga timbulnya jenis tumbuhan atau
hewan baru akan kecil sekali kemungkinannya. Namun, perubahan akan selalu
terjadi. Oleh karena itu, komunitas padat yang stabil tidak mungkin dapat
dicapai. Perubahan komunitas tidak hanya terjadi oleh timbulnya penghuni
baru, tetapi juga hilangnya penghuni yang pertama.
Komunitas, seperti halnya tingkat organisasi
makhluk hidup lain, juga mengalami serta menjalani siklus hidup. Komunitas
Ditinjau dari segi fungsinya, tumbuhan dan hewan dari berbagai jenis yang hidup
secara alami di suatu tempat membentuk suatu kumpulan yang di dalamnya setiap
individu menemukan lingkungan yang dapat memunuhi kebutuhan hidupnya dalam
kumpulana ini terdapat pula kerukunan untuk hidup bersama, toleransi
kebersamaan dan hubungan timbal balik yang menguntungkan sehingga dalam
kumpulan ini terbentuk suatau derajat keterpaduan. Kelompok seperti itu yang
tumbuhan dan hewannya secara bersama telah menyesuaikan diri dan mempunyai
suatu tempat alami disebut komunitas. Konsep komunitas cukup jelas, tetapi
sering kali pengenalan dan penentuan batas komunitas tidaklah mudah.
Ciri Ciri Komunitas
Keanekaragaman Spesies
(Diversitas)
Kepadatan individu dalam suatu populasi langsung dapat
dikaitkan dengan pengertian keanekaragaman. Istilah ini dapat diterapkan
pada pelbagai bentuk, sifat, dan ciri suatu komunitas. Misalnya,
keanekaragaman di dalam spesies, keanekaragaman dalam pola penyebaran.
Margalef (1958) mengemukakan bahwa untuk menentukan keanekaragaman komunitas
perli dipelajari aspek keanekaragaman itu dalam organisasi komunitasnya.
Misalnya mengalokasikan individu populasinya ke dalam spesiesnya, menempatkan
spesies tersebut ke dalam habitatnya, menentukan kepadatan relatifnya dalam
habitat tersebut dan menempatkan setiap individu ke dalam tiap habitatnya
dan menentukan fungsinya. Dengan memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas
dapat diperoleh gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitsas
tersebut. Hal ini menunjukkan tingkat kedewasaannya sehingga keadaannya
lebih mantap.
Ada
dua konsep keanekaragaman spesies yang terdapat dalam komunitas,yakni
2. Heterogenitas
Merupakan penggabungan dari
konsep kelimpahan relative.artinyadalam menganalisa keanekaragaman spesies yang
terdapat didalam komunitas, disamping factor jumlah spesies yang ada di dalam
komunitas tersebut, factor kelimpahan relatifdarimasing masing spesies yang
terdapat pada komunitas tersebut turut diperhitungkan. Indeks keanekaragaman
Shanon-Wiener dinyatakan sebagai berikut :
Sehingga
untukrumus Indeks equitabilitas dinyatakan :
![]() |
Untuk
E =
indeks Equitabilitas
H’ =
Indeks keanekaragaman
Daerah tropika sering disebut sebagai
daerah keanekaragaman spesies yang tinggi, termasuk Indonesia. Hal
inidijelaskan oleh sejumlah hipotesis oleh para ahli, yakni sebagai berikut:
1. Hipotesis
hipotesis ekilibrium, yang meliputi :
a) Laju
di daerah tropika lebih tinggi karena populasinya yang bersifat sedenter
(mobilitas rendah) dan evolusi yang terjadi di daerah tropikaberlangsung lebih
cepat. Hal ini disebabkan karena produktivitasnya yang tinggi.
b) Laju
kepunahan di daerah tropika rendah dikarenakan persaingan yang kurang keras
akibat ketersediaan sumber daya yang melimpah dan heterogenitas ruang lebih
tinggi.
2. Hipotesis
Non-ekilibrium
Yakni suatu hipotesis
yang mengemukakan tidak ada hubungannya dengan keseimbangan. Hipotesis ini
meliputi :
-
Hipotesis waktu : daerah tropika
relative berusia lebih tua dan lebih stabil dibandingkan dengan daerah lainnya.
-
Komunitas komunitas tropika lebih banyak
waktu untuk berkembang menghasilkan lebih banyak spesies.
Struktur
Komunitas
Struktur komunitas dapat dibedakan
menjadi struktur fisik da struktur biologi. Struktur fisik merupakan struktur
yang tampak pada komunitas itu,bila mana komunitas itu diamati atau dikunjungi.
Sedangkan struktur biologi meliputi komposisi spesies, perubahan temporaldalam
komunitas dan hubungan antar spesies dalam suatu komunitas.
Berdasarkan fedelitasnya, spesies yang
menyususn pada suatu kominitas dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Eksklusif,
yakni jika suatu spesies itu hanya ada disuatu daerah tunggal atau komunitas
tunggal.
2. Karakteristik
( preferensial), yakni jika spesies tersebut melimpah dalam suatu daerah namun
juga terdapat didaerah lain dalam jumlah kecil.
3. Ubiquitos,
yakni jika suatu spesies penyebarannya sama dalam berbagai komunitas.
4. Predominant,
jika jumlah individu suatu spesies lebih besar atau sama dengan 10% dari jumlah
individu keseluruhan spesies yang ada dalam komunitas tersebut.
Dominansi
Dominansi merupakanpengendalian
nisbi yang diterapkan makhluk hidup atas komposisi spesies dalam
komunitasnya. Spesies dominan adalah
spesies yang secara ekoligik sangant berhasil dan yang mampu menentukan kondisi
yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Atau spesies yang paling berpengaruh dan
yang mampu dari jumlah maupun aktivitasnya dalam komunitas.. derajat dominansi
terpusat didalam satu, beberapa atau banyak spesies dapat dinyatakan dengan
indeks dominansi, yaitu jimlah kepentingan tiap-tiap spesies dalam
hubungandengan komunitas secara keseluruhan.
Suksesi dan Klimaks
Suksesi adalah suatu proses
perubahan, berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi pada suatu
komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk komunitas baru yang
berbeda dengan komunitas semula. Dengan kata lain, suksesi dapat diartikan sebagai
perkembangan ekosistem tidak seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi sebagai
akibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Ketika habitat berubah,
spesies yang baru akan datang menyerbu untuk menjadi mantap di tempat itu, dan spesies
yang lama akan menghilang.
berbeda dengan komunitas semula. Dengan kata lain, suksesi dapat diartikan sebagai
perkembangan ekosistem tidak seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi sebagai
akibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Ketika habitat berubah,
spesies yang baru akan datang menyerbu untuk menjadi mantap di tempat itu, dan spesies
yang lama akan menghilang.
Suksesi akan berlangsung secara
terus menerus hingga mencapai suatu tingkat akhir yang disebut dengan klimaks.
Pada keadaan klimaks ini komunitas telah mencapai homeostatis, artinya
komunitas dapat mempertahankan kestabilan internalnya dalam menanggapi respon
terhadap factor lingkungan. Deretan langkah atau deretan komunitas yang
menyusunurutan suksesional yang menuntun kearah klimaks disebut sere.( Tim
Dosen, 2012).
Dalam kasus Suksesi hewan, akan
terjadi suksesi tumbuhan terlebih dahulu pada komunitas tersebut lalu di ikuti
oleh munculnya suksesi hewan. Hal ini disebabkan karena tumbuhan merupakan
makhluk autotrof yang menyediakan sumber energy bagi hewan tersebut.
Ketersediaan sumberdaya pada komunitas terjadinya suksesi sangant mempengaruhi
banyak tidaknya hewan yang ditemukan dalam proses suksesi tersebut.
Berdasarkan
kondisi habitat pada awal suksesi, dapat dibedakan dua macam suksesi, yaitu
suksesi primer dan suksesi sekunder.
suksesi primer dan suksesi sekunder.
a 1) Suksesi Primer
Suksesi primer terjadi jika suatu
komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan
komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru. Gangguan tersebut dapat
terjadi secara alami maupun oleh campur tangan manusia. Gangguan secara alami dapat
berupa tanah longsor, letusan gunung berapi, dan endapan lumpur di muara sungai.
Gangguan oleh campur tangan manusia dapat berupa kegiatan penambangan (batu bara,
timah, dan minyak bumi).
komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru. Gangguan tersebut dapat
terjadi secara alami maupun oleh campur tangan manusia. Gangguan secara alami dapat
berupa tanah longsor, letusan gunung berapi, dan endapan lumpur di muara sungai.
Gangguan oleh campur tangan manusia dapat berupa kegiatan penambangan (batu bara,
timah, dan minyak bumi).
Tahapannya
terjadinya suksesi primer dapat dilihat sebagai berikut:
1.
suatu komunitas rusak yang diakibatkan berbagai hal, missal bencana alam
letusan gunung berapi.
2.
Kolonisasi Awal
Spora lumut, biji tumbuhan atau bakteri
autrotrof sebagai organisme
fotosintesis pertama yang muncul akibat terbawa oleh angin dan tertanam di daerah
tersebut.
3. Pertumbuhan pioneer
fotosintesis pertama yang muncul akibat terbawa oleh angin dan tertanam di daerah
tersebut.
3. Pertumbuhan pioneer
Benih-benih yang tumbuh di lahan kosong tumbuh
dan
berkembang biak. Jenis organisme yang datang pertama dan menjadi penghuni pemula
di lahan kosong sebagai pioner. Tumbuhan pioner akan membentuk koloni-koloni.
4. Invasi
berkembang biak. Jenis organisme yang datang pertama dan menjadi penghuni pemula
di lahan kosong sebagai pioner. Tumbuhan pioner akan membentuk koloni-koloni.
4. Invasi
Selama proses kolonisasai di tempat yang baru
anak-anak dari organisme
pioner yang adaptasinya paling baik terhadap lingkungan mampu bertahan dan terus
menyebar atau mengadakan invasi secara luas.
pioner yang adaptasinya paling baik terhadap lingkungan mampu bertahan dan terus
menyebar atau mengadakan invasi secara luas.
5.
Stabilisasi
Habitat dan ekosistem yang baru terbentuk
terus mengalami perubahan,
baik dalam hal kondisi lingkungan fisik maupun komponen biotik yang menghuninya.
Perubahan akan terus terjadi sampai ekosistem mencapai keaadan yang stabil.
baik dalam hal kondisi lingkungan fisik maupun komponen biotik yang menghuninya.
Perubahan akan terus terjadi sampai ekosistem mencapai keaadan yang stabil.
6.
Klimaks
Hubungan
antara jenis-jenis organisme yang dominan pada komunitas
klimaks dengan habitat atau lingkungannya sudah sangat harmonis, dan komunitas
klimaks ini bersifat stabil atau tudak berubah selama kondisi iklim dan keaadaan
fisiografisnya tetap sama.
klimaks dengan habitat atau lingkungannya sudah sangat harmonis, dan komunitas
klimaks ini bersifat stabil atau tudak berubah selama kondisi iklim dan keaadaan
fisiografisnya tetap sama.
) 2) Suksesi
sekunder
Suksesi
sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak bersifat
merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan / substrat
seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi dari tahap awal, tetapi tidak dari
komunitas pionir. Suksesi sekunder dapat disebabkan oleh kebakaran, banjir, gempa bumi
atau aktivitas manusia.
merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan / substrat
seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi dari tahap awal, tetapi tidak dari
komunitas pionir. Suksesi sekunder dapat disebabkan oleh kebakaran, banjir, gempa bumi
atau aktivitas manusia.
PERILAKU HEWAN
Perilaku hewan adalah aktivitas suatu organisme akibat adanya suatu
stimulus. Dalam mengamati perilaku, kita cenderung untuk menempatkan
diri pada organisme yang kita amati, yakni dengan menganggap bahwa
organisme tadi melihat dan merasakan seperti kita. Ini adalah
antropomorfisme (Y: anthropos = manusia), yaitu interpretasi perilaku
organisme lain seperti perilaku manusia. Semakin kita merasa mengenal
suatu organisme, semakin kita menafsirkan perilaku tersebut secara
antropomorfik.
Seringkali suatu perilaku hewan terjadi karena pengaruh genetis
(perilaku bawaan lahir atau innate behavior), dan karena akibat proses
belajar atau pengalaman yang dapat disebabkan oleh lingkungan. Pada
perkembangan ekologi perilaku terjadi perdebatan antara pendapat yang
menyatakan bahwa perilaku yang terdapat pada suatu organisme merupakan
pengaruh alami atau karena akibat hasil asuhan atau pemeliharaan, hal
ini merupakan perdebatan yang terus berlangsung. Dari berbagai hasil
kajian, diketahui bahwa terjadinya suatu perilaku disebabkan oleh
keduanya, yaitu genetis dan lingkungan (proses belajar), sehingga
terjadi suatu perkembangan sifat.
Innate
perilaku hewan merupakan perilaku atau suatu potensi terjadinya perilaku yang telah
ada di dalam suatu individu. Perilaku yang timbul karena bawaan lahir
berkembang secara tetap/pasti. Perilaku ini tidak memerlukan adanya
pengalaman atau memerlukan proses belajar, seringkali terjadi pada saat
baru lahir, dan perilaku ini bersifat genetis (diturunkan).
Sumber Gambar :http://suryotomo.files.wordpress.com
Insting
Adalah perilaku innate klasis yang sulit dijelaskan, walaupun
demikian terdapat beberapa perilaku insting yang merupakan hasil
pengalaman, belajar dan adapula yang merupakan factor keturunan. Semua
maklhuk hidup memiliki beberapa insting dasar.
Pola Aksi Tetap (FAP = Fixed Action Pattern )
FAP adalah suatu perilaku steretipik yang disebabkan oleh adanya stimulus yang spesifik. Contoh:
ü Saat anak burung baru menetas akan selalu membuka mulutnya,
kemudian induknya akan menaruh makanan di dalam mulut anak burung
tersebut.
ü Anak bebek yang baru menetas akan masuk ke dalam air. Perilaku
ini telah “diprogram sebelumnya”, dengan kata lain, tidak diperlukan
proses belajar.
ü Pada perilaku kawin pada burung merak (Pavo muticus), burung jantan akan menunjukkan keindahan warna ekor bulunya.
ü Induk burung tidak perlu belajar untuk memberi makan anaknya yang baru menetas, anak bebek tidak perlu belajar berenang.
Perilaku Akibat Proses Belajar
Proses belajar seringkali didefinisikan sebagai suatu upaya untuk
mendapatkan informasi dari adanya interaksi, atau suatu perilaku yang
memang telah ada pada organisme (hewan) dan cenderung memberikan
pengertian dari suatu upaya coba-coba. Kita ketahui bahwa perilaku
dipengaruhi oleh factor genetic, sehingga organisme (hewan)
JENIS-JENIS PERILAKU
Jenis – jenis perilaku dapat dibagi menjadi :
Perilaku tanpa mencakup susunan saraf
- Kinesis: yaitu gerak pindah yang diinduksi oleh stimulus, tetapi tidak diarahkan dalam tujuan tertentu. Meskipun demikian, perilaku ini masih terkontrol.
- Tropisme: yaitu orientasi dalam suatu arah yang ditentukan oleh arah datangnya rangsangan yang mengenai organisme, pada umumnya terjadi pada tumbuhan. Meskipun tropisme menunjukan suatu perilaku yang agak tetap, tetapi tidak mutlak. Tetapi tanggapan yang terjadi dapat berbeda terhadap intensitas rangsang yang tidak sama. Misalnya : pada cahaya lemah terjadi fototropisme (+), tetapi pada cahaya kuat yang terjadi fototropisme (-)
- Taksis : yaitu gerak pindah secara otomatis oleh suatu organisme motil (mempunyai kemampuan untuk bergerak), akibat adanya suatu rangsangan.
Perbedaan antara tropisme dengan taksis adalah pada taksis seluruh
organisme bergerak menuju atau menjauhi suatu sumber rangsang, tetapi
pada tropisme hanya bagian organisme yang bergerak..
Perilaku yang mencakup susunan saraf.
ü Perilaku bawaan atau naluri atau insting (instinct)
Perilaku terhadap suatu stimulus (rangsangan) tertentu pada suatu
spesies, biarpun perilaku tersebut tidak didasari pengalaman lebih
dahulu, dan perilaku ini bersifat menurun. Hal ini dapat diuji dengan
menetaskan hewan ditempat terpencil, sehingga apapun yang dilakukan
hewan-hewan tersebut berlangsung tanpa mengikuti contoh dari hewan-hewan
yang lain. Tetapi hal tersebut tidak dapat terjadi pada hewan-hewan
menyusui, karena pada hewan-hewan menyusui selalu ada kesempatan pada
anaknya untuk belajar dari induknya. Contoh:
- Pada pembuatan sarang laba-laba diperlukan serangkaian aksi yang kompleks, tetapi bentuk akhir sarangnya seluruhnya bergantung pada nalurinya. Dan bentuk sarang ini adalah khas untuk setiap spesies, walaupun sebelumnya tidak pernah dihadapkan pada pola khusus tersebut.
- Pada pembuatan sarang burung, misalnya sarang burung manyar (Ploceus manyar). Meskipun burung tersebut belum pernah melihat model sarangnya, burung manyar secara naluriah akan membuat sarang yang sama.
Sumber Gambar : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b9/Baya_weaver_at_nest_I_IMG_5101.jpg
Untuk melakukan perilaku bawaan kadang-kadang diperlukan suatu
isyarat tertentu, isyarat tersebut disebut release atau pelepas. Release
(pelepas) ini dapat berupa warna, zat kimia dll.
- Release berupa warna, misalnya pada ikan berduri punggung tiga. Selama musim berbiak biasanya ikan betina akan mengikuti ikan jantan yang perutnya berwarna merah ke sarang yang telah disiapkannya. Tetapi ternyata ikan betina akan mengikuti setiap benda yang berwarna merah yang diberikan kepadanya. Dan benda apapun yang menyentuh dasar ekornya, akan menyebabkan ikan betina tersebut bertelur.
- Release berupa zat kimia misalnya feromon. Feromon berfungsi sebagai release pada berbagai serangga sosial seperti semut, lebah dan rayap. Hewan-hewan tersebut mempunyai berbagai feromon untuk setiap tingkah laku, misalnya untuk perilaku kawin, perilaku mencari makan, perilaku adanya bahaya dll.
- Release berupa bintang, Sauer seorang ornitolog dari Jerman mencoba sejenis burung di Eropa (burung siul). Burung tersebut yang masih muda pada musim gugur akan bermigrasi ke Afrika terpisah dari induknya. Migrasi tersebut dilakukan pada malam hari dengan bantuan navigasi bintang-bintang. Sauer memelihara burung siul yang masih muda, pemeliharaannya tidak mudah karena burung tersebut hanya memakan serangga yang masih hidup dalam jumlah banyak. Bila musim gugur tiba, burung-burung tersebut menjadi tidak tenang. Bila burung tersebut dibawa ke dalam planetarium, melihat bintang-bintang maka burung tersebut akan terbang ke arah tenggara, sepertinya bila di alam benas burung tersebut menuju ke Afrika.
Dorongan berpindah pada musim gugur merupakan contoh perilaku bawaan
pada burung burung yang berulang-ulang pada interval tertentu. Perilaku
demikian disebut ritme atau periode, dan dapat berlangsung setiap 2 jam,
24 jam atau bahkan satu tahun. Banyak hewan yang mempunyai ritme
harian, seperti hewan nocturnal yang aktif setiap 12 jam sekali. Ritme
tersebut tidak akan persis sama, dapat bergeser satu jam kedepan atau
satu jam mundur. ritme yang demikian disebut circadian. Perilaku yang
dapat membedakan panjang relatif siang dan malam diatur oleh perubahan
dalam fotoperiode. Kemampuan bereaksi terhadap fotoperiode menunjukkan
bahwa hewan mempunyai mekanisme mengukur jumlah jam siang dan jumlah jam
malam atau salah satu diantaranya. Atau dengan perkataan lain hewan
tersebut mempunyai jam biologis.
ü Perilaku Yang Diperoleh Dengan Belajar (Animal reasoning and learning)
Perilaku yang diperoleh dengan belajar adalah perilaku yang diperoleh
atau sudah dimodifikasi karena pengalaman hewan yang bersangkutan yang
mengakibatkan suatu perubahan yang tahan lama dan dapat juga bersifat
permanen.
- Kebiasaan (habituation); Hampir semua hewan mampu belajar untuk tidak bereaksi terhadap stimulus berulang yang yang telah dibuktikan tidak merugikan. Mis: membuat suara aneh dekat anjing, pertama-tama hewan tersebut akan terkejut dan mungkin juga takut, tetapi setelah lama dan merasa bahwa suara tersebut tidak berbahaya, maka bila ada suara tersebut hewan tersebut tidak akan berreaksi lagi.
- Perekaman (imprinting); Lorenz (1930) menemukan semacam cara belajar pada burung yang bergantung pada satu pengalaman saja. Hanya pengalaman ini harus berlangsung tepat setelah telur burung tersebut menetas. Mis: Angsa akan mengikuti benda bergerak pertama yang dilihatnya dan benda tersebut dianggap sebagai induknya. Karena yang pertama dilihat adalah Lorenz, maka dia dianggap sebagai induknya.
- Reflex bersyarat; Pavlov (seorang ahli fisiologi) mempelajari sistem syaraf hewan menyusui. Yaitu mempelajari reflex yang menyebabkan anjing memproduksi air liur, dan menemukan bahwa melihat atau mencium bau daging saja sudah menyebabkan anjing mengeluarkan air liur. Pavlov mencoba rangsangan lain yang dapat menghasilkan tanggapan mengeluarkan air liur, yaitu dengan bunyi bel. Pavlov menemukan bahwa rangsangan pengganti harus datang sebelum rangsangan asli, supaya tanggapannya berhasil dipindahkan. Juga semakin pendek jangka waktu antara kedua rangsangan, semakin cepat reaksi itu melekat pada rangsangan pengganti. Hal tersebut dapat juga terjadi pada ayam atau merpati dengan tanda bunyi kentongan (kul-kul).
ü Metode coba-coba (trial & error learning)
Misalnya yang dilakukan Skinner dengan membuat sekat dalam kotak yang
akan mengeluarkan makanan bila ditekan. Tikus yang lapar dimasukan ke
dalam kotak. Dalam waktu singkat tikus dapat mengetahui cara mendapatkan
makanan tersebut.
Dalam suatu kotak ada dua titik cahaya, yang satu lebih terang dari
yang lain. Bila yang terang dipatuk pada bagian bawahnya akan keluar
makanan. Merpati dengan cepat akan mematuk cahaya yang lebih terang.
ü Perilaku dengan menggunakan akal
Pada umumnya dianggap bahwa suatu ciri yang membedakan hewan dengan
manusia adalah dari bahasanya. Banyak hewan yang memiliki mekanisme
pemberian isyarat yang mendekati ciri bahasa, misalnya pada lebah dengan
tariannya. Sedangkan Ann dan David meneliti simpanse betina bernama
Sarah dengan menggunakan simbol-simbol dari plastik sebagai bahasa.
Setelah 6 tahun, Sarah mempunyai perbendaharaan kata sekitar 130 buah.
Penggunaan simbol-simbol yang dapat dimanipulasi sebagai pengganti
bahasa lisan itu, merupakan bukti kecakapan simpanse tetapi tidak mampu
mengeluarkannya. Sedangkan Garner menyelidiki kemampuan simpanse betina
bernama Washoe dengan menggunakan bahasa isyarat orang tuli di Amerika
Utara. Setelah 22 bulan, Washoe sudah memahami lebih dari 30 bahasa
isyarat tersebut. Walaupun kemampuan Sarah dan Washoe belum sempurna,
tetapi kemampuannya sama baiknya dengan kemampuan seorang anak berumur 2
tahun.
PERILAKU SOSIAL
Perilaku yang dilakukan oleh satu individu atau lebih yang
menyebabkan terjadinya interaksi antar individu dan antar kelompok.
Perilaku Sosial bisa dibagi menjadi :
Perilaku Affiliative; adalah perilaku yang dilakukan
bertujuan untuk mempererat ikatan social, koordinasi antar individu dan
kebersamaan antar atau di dalam kelompok
Perilaku Agonistic
- Perilaku aggressive: Perilaku yang bersifat mengancam atau menyerang.
- Perilaku submissive: Perilaku yang menunjukkan ketakutan atau kalah.
Vokalisasi; Adalah suara yang dikeluarkan oleh satu atau lebih individu untuk berkomunikasi dan koordinasi diantara anggota kelompoknya
Perilaku maternal / mothering; Perilaku induk yang bertujuan melindungi dan memelihara anaknya
MENGHINDARI PREDATOR
Ada sekelompok kecil hewan yang termasuk super predator yang tidak
takut pada predator yang lain, tetapi pada akhirnya musuhnya adalah
manusia. Pada umumnya cara utama hewan menghindari musuh adalah dengan
berlari atau terbang. Pada hewan tingkat tinggi, melarikan diri dari
predator adalah merupakan perilaku belajar, mis : kucing dengan anjing.
Tetapi pada lalat rumah merupakan perilaku bawaan, mis : bila lalat akan
dipukul dapat menghindar, karena adanya perubahan udara di sekitarnya.
Tanda adanya bahaya itu diterima berbeda antara satu spesies dengan
spesies yang lain. Pada sejenis burung gelatik mempunyai naluri takut
terhadap burung hantu tetapi tidak takut terhadap ular, tetapi pada
spesies burung yang lain sejak lahir sudah takut terhadap ular, tetapi
tidak takut terhadap predator yang lain. Juga respon terhadap predator
bervariasi, karena meskipun predatornya sama akan memberikan tanda yang
berbeda pada waktu yang tidak sama. Misalnya antelop tidak akan
melarikan diri bila melihat singa yang berjalan ke arahnya, tetapi
antelop baru bereaksi kalau singa mengendap-endap pada semak-semak.
CARA MENGHINDARI PREDATOR
1. Perilaku Altruistik
Perilaku ini lebih mementingkan keselamatan kelompok daripada dirinya sendiri.
- Rusa (Muskoxen) di daerah tundra di Antartika, bila tidak bisa melarikan diri dari predator (serigala) akan mengirimkan bau dari jari kakinya yang disebut karre.
- Kera (Baboon) di Afrika bila ada bahaya misalnya dengan datangnya singa atau leopard, maka akan membentuk formasi kera yang yang tua, betina dan anak-anak ditengah dikelilingi oleh kera-kera muda jantan. Sedangkan kera jantan yang menjadi raja akan berusaha mengusir atau menyerang predator tersebut.
- Induk ayam akan bersuara ribut sebagai tanda bahaya bila dilihat ada burung elang yang datang, anaknya dipanggil untuk disembunyikan.
- Semut yang sarangnya terganggu akan mengeluarkan feromon (asam formiat) dari taringnya, untuk memberi tanda kepada semut-semut yang lain, bila keadaan sudah reda asam formiat tidak dikeluarkan lagi dan kembali lagi ke sarang.
2. Kamuflase (penyamaran)
Yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
- Burung Ptarmigan pada musim dingin berbulu putih, dan pada musim panas bulunya berbintik membuat tidak menarik perhatian karena warnanya sangat sesuai dengan lingkungan.
- Kupu-kupu daun mati (Kallima) dari Amerika Selatan sayapnya sangat mirip dengan daun yang dihinggapi sehingga dapat terhindar dari burung pemangsanya, tetapi karena sangat mirip dengan daun maka kadang-kadang ada insekta lain yang bertelur di atas sayapnya.
3. Mimikri
Yaitu menyerupai hewan yang lain, dapat dibagi menjadi mimikri Miller, mimikri Bates dan mimikri agresif.
- Mimikri Miller adalah hewan yang dapat dimakan sangat mirip dengan hewan yang tidak dapat dimakan. Misalnya kupu-kupu pangeran tidak mengandung racun dalam tubuhnya dan enak dimakan seperti roti bakar, sangat mirip dengan kupu-kupu raja yang mempunyai racun dalam tubuhnya.
- Mimikri Bates adalah hewan yang tidak berbahaya menyerupai hewan lain yang berbahaya. Misalnya sejumlah ular di AS yang tidak berbahaya memiliki warna seperti ular tanah yang sangat berbisa.
- Mimikri agresif adalah mengembangkan alat untuk mengelabui mangsanya. Ikan anglerfish (Antennarius) dari Filipina mempunyai satu pemikat yang mirip ikan kecil untuk memikat mangsanya, pemikat tersebut adalah perkembangan dari duri pada sirip punggung pertama. Kunang-kunang jantan dan betina saling tertarik dengan cahaya kelap-kelipnya, pola kelap-kelip ini berbeda untuk setiap spesies. Tetapi ada suatu spesies kunang-kunang betina yang dapat meniru kelap-kelip spesies yang lain, bila jantan spesies yang lain itu datang akan dimakan.
Banyak hewan yang mempunyai adaptasi melindungi dirinya terhadap serangan pemangsa, misalnya :
- Duri pada landak
- Bau pada celurut
- Spirobolus (kaki seribu) mensekresi asam hidrosianat yang beracun jika diganggu.
Bila hewan telah mempunyai senjata tetapi tidak ada pemangsa yang
tahu, maka hewan tersebut berevolusi sehingga mempunyai warna yang
mencolok tanpa penyamaran sedikitpun, disebut aposematik.
Misalnya pada larva kupu-kupu raja berwarna mencolok tanpa penyamaran
sedikitpun, dan di dalam badannya terdapat zat kimia yang beracun untuk
predator yang memangsanya. Zat beracun tersebut berasal dari tumbuhan
(milkweed) yang biasa dimakan. Racun tersebut tetap disimpan sampai
larva mengalami metamorfosis. Maka burung yang memakan kupu-kupu raja
akan memuntahkannya dan tidak akan makan lagi.
Wilayah Jelajah (Home Range)
Adalah wilayah yang dikunjungi satwaliar secara tetap karena dapat
mensuplai makanan, minum, serta mempunyai fungsi sebagai tempat
berlindung atau bersembunyi, tempat tidur dan tempat kawin.
Tempat-tempat minum dan tempat-tempat mencari makanan pada umumnya lebih
longgar dipertahankan dalam pemanfaatannya, sehingga satu tempat minum
dan tempat makan seringkali dimanfaatkan secara bergantian ataupun
bersama-sama.
Teritori
Beberapa spesies mempunyai tempat yang khas dan selalu dipertahankan
dengan aktif, misalnya tempat tidur (primata), tempat istirahat
(binatang pengerat), tempat bersarang (burung), tempat bercumbu (courtship territories).
Batas-batas teritori ini dikenali dengan jelas oleh pemiliknya,
biasanya ditandai dengan urine, feses dan sekresi lainnya. Pertahanan
teritori ini dilakukan dengan perilaku yang agresif, misalnya dengan
mengeluarkan suara ataupun dengan perlakuan fisik. Pada umumnya lokasi
teritori lebih sempit daripada wilayah jelajah.
Batas wilayah jelajah dan teritori kadang-kadang tidak jelas,
misalnya terjadi pada beberapa primata, seperti Trachypithecus, Gorilla,
Pan dan berbagai jenis karnivora seperti anjing (Canis lupus).
Pada burung batas wilayah jelajah tidak jelas, Elliot Howard menemukan
pada burung pipit hanya dipertahankan beberapa jam. Tetapi ada juga yang
jelas batas-batasnya, terutama bagi satwa liar yang mempunyai wilayah
jelajah yang tidak tumpang tindih di antara individu atau kelompok
individu, seperti dijumpai pada wau-wau (Hylobates), teritori
kawin beberapa kelompok Artiodaktila dan pada anjing liar. Kesimpulannya
adalah jika individu tidak mempunyai teritori, maka wilayah jelajahnya
dapat tumpang tindih. Misalnya terjadi pada kelompok famili rusa merah (Cervus elaphus), Gajah Afrika (Loxodonta), dan kera barbari (Macaca sylvanus).
Untuk mempertahankan teritorinya satwa liar menunjukan perilaku conflict behaviour.
Aktivitasnya dengan menunjukkan aggressive display dan triumph ceremony (pada angsa).
Luas wilayah jelajah semakin luas sesuai dengan ukuran tubuh satwa liar baik dari golongan herbivora maupun karnivora. Wilayah jelajah juga bervariasi sesuai dengan keadaan sumber daya lingkungannya, semakin baik kondisi lingkungannya semakin sempit ukuran wilayah jelajahnya. Selain itu wilayah jelajah juga dapat ditentukan oleh aktivitas hubungan kelamin, biasanya wilayah jelajah semakin luas pada musim reproduksi.
Aktivitasnya dengan menunjukkan aggressive display dan triumph ceremony (pada angsa).
Luas wilayah jelajah semakin luas sesuai dengan ukuran tubuh satwa liar baik dari golongan herbivora maupun karnivora. Wilayah jelajah juga bervariasi sesuai dengan keadaan sumber daya lingkungannya, semakin baik kondisi lingkungannya semakin sempit ukuran wilayah jelajahnya. Selain itu wilayah jelajah juga dapat ditentukan oleh aktivitas hubungan kelamin, biasanya wilayah jelajah semakin luas pada musim reproduksi.
Untuk mengetahui luas wilayah jelajah satwaliar diperlukan penelitian
yang berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama. Berdasarkan hasil
penelitian Douglas-Hamilton di TN Lake Manyara (Afrika), yang dilakukan
lebih dari 15.000 ulangan untuk 48 unit keluarga gajah dan 80 ekor
jantan soliter, mendapatkan luas wilayah jelajah yang bervariasi antara
14-52 km2. Luas ini mungkin terlalu kecil jika dibandingkan dengan
ukuran tubuh gajah yang besar.
Penelitian Leuthold dan Sale di TN Tsavo, Kenya mendapatkan angka wilayah jelajah rata-rata dari 4 ekor gajah sekitar 350 km2. Olivier di Malaysia wilayah jelajahnya antara 32,4-166,9 km2.
Wilayah jelajah unit-unit keluarga gajah di hutan-hutan primer mempunyai ukuran luas dua kali dari wilayah jelajah di hutan-hutan sekunder. Perbedaan ini tentunya disebabkan karena adanya perbedaan produktivitas makanan pada kedua kondisi hutan yang berbeda.
Ukuran wilayah jelajah bagi jenis primata ditentukan oleh 2 faktor utama, yaitu jarak perjalanan yang ditempuh setiap hari oleh setiap anggota kelompok, dan pemencaran dari kelompoknya. Ukuran wilayah jelajah dari siamang, wau-wau lar dan wau-wau agile berbeda, lihat table di bawah.
Penelitian Leuthold dan Sale di TN Tsavo, Kenya mendapatkan angka wilayah jelajah rata-rata dari 4 ekor gajah sekitar 350 km2. Olivier di Malaysia wilayah jelajahnya antara 32,4-166,9 km2.
Wilayah jelajah unit-unit keluarga gajah di hutan-hutan primer mempunyai ukuran luas dua kali dari wilayah jelajah di hutan-hutan sekunder. Perbedaan ini tentunya disebabkan karena adanya perbedaan produktivitas makanan pada kedua kondisi hutan yang berbeda.
Ukuran wilayah jelajah bagi jenis primata ditentukan oleh 2 faktor utama, yaitu jarak perjalanan yang ditempuh setiap hari oleh setiap anggota kelompok, dan pemencaran dari kelompoknya. Ukuran wilayah jelajah dari siamang, wau-wau lar dan wau-wau agile berbeda, lihat table di bawah.
Whitten menunjukkan bahwa faktor persaingan dan aktivitas manusia dapat berpengaruh terhadap luas wilayah jelajah bilou (Hylobates klossii).
Menurut Van Schaik penggunaan wilayah jelajah kera ekor panjang di
Ketambe (TN. G. Leuser), ada beberapa faktor ekologis yang potensial
mempengaruhi penggunaan wilayah jelajah, baik ditinjau dari pengaruh
jangka panjang maupun jangka pendek. Pola penggunaan jangka panjang pada
umumnya disesuaikan dengan pemanfaatan buah, sedang pencarian serangga
disesuaikan dengan keadaannya yang menguntungkan. Penyimpangan dari pola
ini dapat saja terjadi karena berbagai faktor, seperti adanya
lereng-lereng terjal, dan wilayah yang tumpang tindih dengan kelompok
lainnya. Kera ekor panjang menghindari lereng-lereng terjal, terutama
untuk menghindari resiko adanya pemangsa dan untuk menghemat tenaga.
Wilayah yang tumpang tindih dengan kelompok tetangga juga dihindari,
sehingga tidak terjadi pertemuan dengan kelompok lainnya. Pergerakan
adalah usaha individu ataupun populasi untuk mendapatkan sumberdaya yang
diperlukan agar dapat bertahan hidup dan menurunkan keturunan sesuai
dengan tetuanya. Ada berbagai cara pergerakan, pada umumnya dapat
dibedakan kedalam: invasi, pemencaran , nomaden dan migrasi. Pergerakan
ini dilakukan di wilayah jelajahnya, yang luasnya bervariasi, tergantung
pada jenis satwaliar, serta kualitas dan kuantitas habitatnya. Di dalam
wilayah jelajahnya, ada suatu tempat yang dipertahankan secara
intensif, disebut teritori, seperti tempat bersarang atapun tempat
makan. Pada kondisi habitat yang kaya akan sumberdaya yang diperlukan
satwaliar, ukuran teritori mereka lebih sempit (kecil) jika dibandingkan
dengan habitat yang miskin.
EKOENERGETIKA
Ekoenergetika merupakan kajian
transformasi (perubahan)
energi dalam organisme yang terdapat dalam suatu
ekosistem arus pengaliran atau perpindahan
energi dari organisme yang satu keorganisme lain
seolah- olah merupakan rangkaian mata rantai
yang disebut juga rantai pangan (food chain).
TRANSFORMASI ENERGI
HUKUM THERMODINAMIKA 1
Menyatakan: “energi tidak dapat diciptakan
dan
tidak dapat dimusnahkan,tetapi hanya dapat
diubah”.
Dalam proses transfomasi energi tidak ada
yang
100%
efisien.karena dalam proses transformasi
selalu terjadi degredasi energi, sehingga
muncullah aliran energi.
EFESIENSI EKOLOGIS
Efesiensi ekologis ini banyak macamnya,
yaitu:
vEfesiensi
ekstra tingkatan tropik
1.Efesiensi
Lidamen (PG/I atau PG/LA It-I)
2.Efisiensi
Asimilasi (At/At-I)
3.Efisiensi
Produksi (Pt/Pt-1)
4.Efisiensi
Pemanfaatan (It/Pt-I atau AT/Pt-I)
vEfisiensi
Intra tingkatan tropik
1.Efesiensi
Pertumbuhan Jaringan (Pt/At)
2.Efesiensi
Pertumbuhan Ekologis (Pt/It)
3.Efesiensi
Asimilasi (At/It)
4.Efesiensi
Respirasi (Rt/PNt)
ANGGARAN (KESEIMBANGAN) ENERGI
Proses pemasukan energi
(in put) idealnya sudah
tentu lebih besar dari pada pengeluaran (out put).
kalau energi yang keluar lebih besar dari energi
yang masuk dalam suatu organisme, maka tentu
hal ini akan menimbulkan ketidakseimbangan,
sehingga mengakibatkan organisme tersebut akan
kekurangan energi (lemah).
PRODUKTIVITAS SEKUNDER
Produktivitas sekunder adalah penambahan dari
biomassa panen tegakan (B) ditambah dengan
“produksi” (hasil asimilasi) yang ter-eliminasi (E),
akibat kematian, emigrasi, ekskuvia, atau hasil
lainnya seperti bulu yang luruh pada waktu
menyilih, jaring yang dihasilkan labah-labah dan
sebagainya.
Langganan:
Komentar (Atom)
